KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR (OPERASIONAL FORMAL, USIA 7-12 TAHUN)

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH (OPERASIONAL KONGKRIT) A. Perkembangan fisik Fase usia sekolah dasar (7-12 tahun) atau biasa disebut fase operasional kongkrit merupakan proses pemikiran anak mengarah pada kejadian nyata yang dapat diamati, mengalami perubahan pada perkembangan fisik yang signifikan, adapun perkembangan fisiknya meliputi: 1. Tinggi dan berat badan, masih mengalami belum seimbangnya proporsi dan bentuk tubuh. Perkembangan akan mulai nampak di kelas 5/6 begitupun pada jaringan ototnya. 2. Perubahan pada struktur dan fungsi otak 3. Penambahan jumlah dan ukuran ujung-ujung syaraf yang ada didalam atau sekitar otot. Diusia 5 tahun perkembangan otot sudah mencapai 90% otot orang dewasa. B. Motorik Merupakan perkembangan kemampuan melakukan atau merespon sesuatu. Semakin dewasa seorang anak maka akan semakin banyak kemampuan motoriknya. Seiring dengan pertumbuhan fisiknya yang matang , maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkordinasi dengan baik. Setiap geraknya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Menggerakan anggota geraknya sesuai dengan tujuan yang jelas seperti menggerakkan tangan untuk menulis, menggambar, mengambil makanan dll, menggerakkan kaki untuk menendang, berlari, mengejar dll. Anak diusia 7 tahun, mulai ada peningkatan minat pada bidang spiritual, mulai dapat melakukan gerakan dengan lancar. Usia 8-9 tahun, mereka mulai mampu menggunakan alat rumah tanggga, ingin terlibat sesuatu, menyukai kelompok/model. Usia 10-12 tahun, perubahan kemampuan motorik diikuti berubahnya postur tubuh yang berhubungan dengan pubertas yang mulai tampak, anak mulai dapat melakukan aktivitas rumah tangga seperti mencuci, menjemur pakaian sendiri, adanya keinginan untuk membantu dan menyenangkan orang lain, dan tertarik dengan lawan jenis. C. Perceptual Merupakan kemampuan memahami atau mencari makna dari data yang diterima oleh berbagai indera. Ada tiga proses aktivitas perceptual yaitu: a. Sensasi : peristiwa menerima informasi oleh indera penerima b. Persepsi : pengolahan informasi lebih lanjut dari aktivitas sensasi c. Atensi : seleksi dari persepsi, dari persepsi dipilih dari salah satu yang dianggap paling benar menurutnya. D. Intelektual atau kemapuan kognitif Kemampuan dalam membaca, menulis dan menghitung. Dalam mengembangkan kreativitas anak menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti lomba mengarang, baca puisi, drama dll. Ditahap ini intelektual anak sudah mencapai tahap kematangan namun memerlukan obyek kongkrit yang dapat dilihat atau diamati secara langsung. E. Bahasa Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Melalui bahasa setiap manusia dapat mengenal dirinya, sesamanya, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama. Pada awal masa ini anak sudah mulai menguasai sekitar 2.500 kata dan pada masa akhir 11-12 tahun anak telah dapat menguasai sekitar 5.000 kata. Perkembangan bahasa anak diperkuat dengan hadir mata pelajaran bahasa indonesia sebagai bahasa pemersatu, dengan harapan siswa dapat mengetahui bahasa indonesi yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan, yang digunakan untuk berkomunikasi, mengekspresikan pikiran, perasaan, sikap dan makna dari setiap isi dari setiap bahan bacaan. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru guna mengembangkan kemampuan berbahassa atau keterampilan berkomunikasi anak melalui tulisan dengan membuat karangan yang berkiatan dengan pengalaman hidup siswa atau kehidupan pada umumnya, cita-citaku, keluargaku dll. F. Emosi Merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkahlaku individu. Emosi terbagi menjadi 2 yaitu: 1. Emosi yang stabil/positif, seperti perasaan senang, menunjukkan wajah yang ceria, mau bergaul dengan teman secara baik, bersikap respek atau menghargai terhadap diri sendiri dan orang lain, bergairah, bersemangat atau rasaingin tahu individu terhadap sesuai sehingga menimbulkan konsentrasi dalam aktivitas belajarnya seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif berdiskusi, mengerjakan tugas dan disiplin dalam belajar. 2. Emosi yang tidak stabil/tidak sehat/negatif, seperti perasaan tidak senang, kecewa, menunjukkan wajah yang murung, mudah tersinggung, tidak suka bergaul, suka marah-marah, suka mengganggu teman, tidak percaya diri, tidak bergairah, maka akan berpengaruh pada proses belajar yang ditandai dengan perasaan letih, ngantuk dan tidak konsentrasi pada aktivitisa belajar. Untuk menumbuhkan emosi yang positif maka guru seyogyanya menyediakan ruang kelas yang kondusif, menyenangkan, variatif, dan penuh keceriaan agar siswa bergairah dalam berinteraksi didalam kelasnya. Pada usia sekolah khususnya kelas tinggi, anak sudah mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterimaatau disenangi oleh orang lain, sehingga mulai mengontrol atau mengendalikan emosinya melalui pembiasaan. G. Sosial Merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial atau proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan norma agama. Pada usia ini perkembangan sosialnya sebagai berikut: 1. anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri dari sikap terpusat kepada diri sendiri menuju sikap bekerja sama atau peka terhadap kebutuhan orang lain. 2. anak mulai berminat terhadap kegiatan-kegiatan teman sebaya 3. bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok (gang) kematangan proses sosial ini dapat diamanfaatkan dengan memberikan tugas-tugas kelompok yang memberikan pengalaman belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati, bertenggang rasa, dan bertanggungjawab. H. Kesadaran Beragama Kualitas beragama anak akan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya. Kepercayaan anak pada Tuhan diusia ini bukanlah keyakinan hasil pemikiran akan tetapi sikap emosi yang berhubungan erat dengan kebutuhan jiwa akan kasih sayang dan perlindungan. Untuk itu orang tua dalam mengenalkan anaknya dengan Tuhannya patutlah mengenalkan kasih sayang Tuhan terhadap hambanya dengan berbagai kebesaran dan kemurahan dalam hidupnya. Beberapa ciri-ciri kesadaran beragama pada anak usia sekolah dasar: 1. Sampai usi 10 tahun ingatan anak masih bersifat mekanis sehingga kesadaran beragamanya hanya merupakan hasil sosialisasi orang tua, guru dan lingkungannya. 2. Pengalaman beribadahnya masih bersifat peniruan, belum dilandasi kesadarannya. 3. Pada usia 10 tahun keatas anak mulai bertambah kesadarannya bahwa nilai agama lebih tinggi dibandingkan nilai keluarga, mempercayai bahwa ini bukan kepercayaan keluarga melainkan seluruh masyarakat. I. Moral Merupakan kebiasaan yang mengacu pada baik buruknya perbuatan manusia sebagai manusia. Tahap-tahap perkembangan moral antara lain: 1. Tingkat prakonvensional: adalah aturan-aturan atau ungkapan-ungkapan moral masih ditafsirkan oleh individu atau anak berdasarkan akibat fisik yang akan diterimanya baik berupa sesuatu yang menyakitkan atau kenikmatan. a. Orientasi hukuman dan kepatuhan, anak hanya semata-mata menghindari hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa mempersoalkannya. b. Orientasi ralativis- instrumental, perbuatan dianggap benar adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri atau orang lain, berorientasi pada untung-rugi. 2. Tingkat konvensional: adalah aturan-aturan atau ungakapn-unagkapan moral dipatuhi atas dasar menuruti harapan keluarga, kelompok atau masyarakat. Setiap aspek perkembangan pada individu ada hubungannya dengan pembelajaran, apabila aspek perkembangan berkembang sesuai dengan prosesnya maka pembelajaran anak dikelas akan mudah dipahaminya, tidak ada hambatan berarti yang dilalui oleh siswa. Adapun faktor yang mendukungnya yaitu guru yang memiliki keterampilan dalam mendesain lingkungan fisik kelasnya agar nyaman dan menyenangkan bagi siswa ketika berada didalam kelas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FASE PERKEMBANGAN ANAK USIA 0 SAMPAI 7 TAHUN

Contoh sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari

CARA AGAR PROKER KKA SUKSES DAN DISUKAI MASYARAKAT DESA