PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK (PROSES PERKEMBANGAN INDIVIDU)
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

A.
Hakikat
perkembangan
Perkembangan merujuk pada perubahan
fisik maupun psikis pada setiap individu mulai dari masa kandungan hingga masa
dewasa akhir. Setiap individu melewati masa perkembangannya yang ditandai
dengan perubahan pada fisik dan psikis berdasarkan tingkatan usianya. perkembangan ini adalah proses yang bersifat kualitatif dan
berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan
yang bersifat progresif serta sistematis di dalam diri manusia. Akhmad Sudrajat
: 2008, memberikan definisibahwa “Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis,
progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir
hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami
individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.” Sesorang individu
mengalami perkembangan sejak masa konsepsi, serta akan berlangsung selama
hidupnya. “Perkembangan adalah proses yang berlangsung sejak konsepsi, lahir
dan sesudahnya, dimana badan, otak, kemampuan dan tingkah laku pada masa usia
dini, anak2, dan dewasa menjadi lebih kompleks dan berlanjut dengan kematangan
sepanjang hidup. hal ini didefinisikan oleh”( Dr Siti Aminah Soepalarto, SpS (K). : 2008 ). Perkembangan
ditandai dengan usia yang didukung oleh struktur tubuh dan kematangan proses
berfikir, semakin bertambah usia seseorang maka semakin berkembang pula postur
tubuhnya dan semakin matang dalam melakukan tindakan.
B.
Prinsip
perkembangan
Individu terus menerus berkembang
atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang dilaluinya sepanjang
hidupnya. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi baik dari fisik,
intelektual, emosi, sosial, bahasa, maupun moral-spiritual satu sama lainnya
saling mempengaruhi. Apabila seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami
gangguan (sering sakit-sakitan), kurang asupan gizi maka dia akan mengalami
kemandegan dalam perkembangan aspek lainnya seperti kecerdasan dan emosinya. Begitupula
apabila perkembangan spiritual moral anak berkembang dengan tidak baik
maka anak akan berkembang menjadi anak
yang berkebiasaan buruk, susah diatur dan cenderung kriminal. Setiap aspek
perkembangan harus seimbang dan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah
tertentu. Setiap tahap perkembangan merupakan hasil dari tahap perkembangan
sebelumnya dan merupakan prasayarat untuk perkembangan selanjutnya.
Menurut Yellon dan Weinstein (Yusuf
Syamsu, 2018) menjelaskan pola perkembangan sebagai berikut:
a. Cepalochaudal (perkembangan itu dimulai dari
kepala ke kaki, artinya yang matang terlebih dahulu adalah bagian atas kemudian
kebagian bawah, dan tidak mungkin terbalik), dan proximodistal (perkembangan
itu bergerak dari tengah: seperti paru-paru, jantung, ke pinggir: tangan).
b. Struktur mendahului fungsi, yang berarti bahwa
anggota tubuh individu berfungsi setelah matang strukturnya. Seperti mata akan
melihat setelah otot-ototnya matang.
c. Perkembangan itu berdiferensiasi, artinya bahwa
perkembangan fisik maupun psikis berkembangan dari umum ke khusus (spesifik). Contoh:
bayi menendang-nendangkan kakinya secara sembarangan sebelum dia dapat
mengoordinasikannya untuk merangkak atau berjalan, bayi mengoceh dan
mengeluarkan suaranya dengan ejaannya sebelum dapat mengucapkan kata-kata yang
berarti atau bermakna.
d. Perkembangan berlangsung dari kongkret ke
abstrak, artinya perkembangan itu berproses dari kemampuan individu berfikir
secara konkret (objeknya tampak/ada)menuju ke abstrak (objeknya tak nampak).
e. Perkembangan berlangsung dari egosentrisme ke
perspektivisme, berarti bahwa invidu pada mulanya bersifat egois atau hanya
mementingkan diri sendiri berdasarkan kebutuhan dan keinginannya tanpa
memperdulikan orang lain atau mengenyampingkan persaan orang disekitarnya, pada
fase ini anak hanya dengan dunianya, belum memiliki perassaan peka terhadap
orang lain. Melalui pengalamannya bergaul dengan teman sebayanya dan
orang-orang disekitarnya maka lambat laun sikap egosentris itu berubah menjadi
perspektivis yaitu mulai memperhatikan orang-orang disekitarnya dan mulai
berbagi.
f. Perkembangan berlangsung dari out-control ke inner-control yang berarti bahwa anak pada awalnya sangat
tergantung pada pengawasan atau bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan
atau melakukan aktivitisanya yang terkait dengan kedisiplinan, seiring dengan
bertambahnya pengalaman atau belajar tentang norma dan nilai baik dilingkungan
keluarga, sekolah, masyarakat, teman sebaya ia mampu mengontrol tindakannya
atau perilakunya oleh dirinya sendiri.
C.
Proses
perkembangan individu
Berbicara tentang perkembangan, ada beberapa proses
perkembangan yang terjadi pada invidu, diantaranya :
1.
Proses
biologis
Proses biologis
merupakan perubahan yang terjadi pada fisik individu yang bersifat alami. Seperti
pertumbuhan otak, sistem syaraf, keterampilan
motorik, hormon dll.
2.
Proses kognitif
Proses kognitif
merupakan perubahan-perubahan kemampuan berfikir, bahasa, dan cara memperoleh
pengetahuan dari lingkungannya.
3.
Proses psikososial
Proses psikososial
merupakan perubahan-perubahan pada aspek perasaan, emosi , kepribadian individu,
dan pola hubungan dengan anggota keluarga, teman, guru, lingkungan sekitar dll.
D.
Faktor
yang mempengaruhi perkembangan individu
Setiap perkembangan individu tidak selamanya
berkembang dengan baik, perkembangan yang sesuai dengan fase normalnya atau
secara umum adalah perkembangan yang berjalan dengan baik tanpa ada hambatan
dan gangguan dari segi fisik dan psikisnya. Berikut beberapa faktor yang
mempengaruhi perkembangan pada individu:
1.
Faktor genetik (Hereditas)
Genetik adalah
faktor bawaan dari dalam kandungan yang dipengaruhi oleh gen atau keturunan
atau bawaan dari orang tuanya. Seperti kualitas system syaraf, keseimbangan
biokimia tubuh, dan struktur tubuh. Pada masa konsepsi (pembuahan ovum oleh
sperma)seluruh bawaan hereditas individu dibentuk dari 23 kromosom (pasangan
xx)dari ibu, dan 23 kromosom (pasanyan xy) dari ayah. Dari 46 kromosom tersebut
terdapat beribu-ribu gen yang mengandung sifat-sifat fisik dan psikis individu
atau yang menetukan potensi hereditasnya. Dalam hal ini tidak ada seorangpun
yang mampu menambah atau mengurangi potensi hereditas tersebut. Masa kandungan
merupakan masa-masa kritis pada perkembangan kepribadian individu dan kemampuan
yang menentukan jenis penyesuaian dirinya pasaca lahir. Untuk itu ibu yang
sedang mengandung harus memperhatikan kesehatan makanannya dan lingkungannya
agar memiliki daya tahan tubuh yang baik dan tidak mengalami gelisah atau stres
slama kehamilan. Perilaku stres saat kehamilan akan mempengaruhi perkembagan
janin. Yang harus diperhatikan bahwa pengaruh gen terhadap kepribadian tidak
secara langsung, bagaimanapun lebih besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
2.
Faktor lingkungan
Lingkungan adalah
seputar fisik alam dimana tempat individu berinteraksi anatar sesamanya. Perkembangan
individu dipengaruhi oleh faktor lingkungan diantaranya lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, teman sebaya, dan media massa.
a.
Lingkungan keluarga (orang tua)
Lingkungan
keluarga adalah faktor penentu utama terhadap perkembangan anak, dimana anak
mulai mengenal dan melihat lingkungannya bersama keluarga di rumah. Keluarga ibarat
rumah belajar pertama yang dikenali oleh individu. Untuk itu orang tua patutlah
mempersembahkan ruang belajar yang layak untuk dijadikan contoh tauladan
individu baru dalam kelaurga. Keluarga penentu lahirnya individu yang cerdas,
sehat, terampil, mandiri dan berbudi pekerti juga berakhlak mulia. Peran orang
tua sesuai dengan fase perkembangan anak menurut Hamner dan Tunner adalah: (1)
pada masa bayi berperan sebagai perawat (caregiver)
untuk memelihara kebersihan dan kesehatan anak seperti memberikan asupan
makanan yang bergizi, memandikan dan memakaikan pakaian yang bersih. (2) pada
masa kanak-kanak sebagai pelindung (protector)
untuk melindungi anak dimasa-masa merangkak dan berjalan dengan memberikan
perhatian ekstra dalam eksplorasi lingkungannya. (3) pada usia prasekolah
sebagai pengasuh (nurturer), memberikan
asuhan atau bimbingan kepada anak seperti membiasakan anak untuk memakai
pakaian sendiri dan makan sendiri, memelihara kebersihan diri dan lingkungannya
(4) pada masa sekolah dasar sebagai pendorong (encourager), untuk memfasilitasi aktivitas anak dengan cara
memotivasi agar anak tetap aktif dan semanagt mengikuti kegiatan-kegiatan di
sekolah. (5) pada masa praremaja dan remaja berperan sebagai konselor (counselor) dengan menerapkan sikap dan
perlakuan kepada anak dalam mencapai perkembangannya.
Keluarga adalah
tempat ternyaman bagi setiap anggota keluarga. Keluarga yang fungsional atau
kelaurga yang ideal menurut Alexander 1960 (Yusuf Syamsu:2018) sebagai berikut:
1)
Minimnya perselisihan antar orang tua
atau orang tua-anak.
2)
Saling terbuka
3)
Menghargai pendapat satu sama lain
4)
Penuh kasih sayang
5)
Menerapkan disiplin namun tidak keras
dan menekang
6)
Saling membantu dalam kebaikan
7)
Musyawarah keluarga dalam memecahkan
masalah
8)
Berkecukupan dalam ekonomi
9)
Mengamalkan nilai-nilai moral agama
10)
Menjalin kebersamaan yang harmonis antar
anggota keluarga
11)
Memberikan peluang untuk bersikap
mandiri dalam berpikir, merasa, dan berprilaku.
b.
Lingkungan sekolah
Hurlock (1986:322) mengemukakan
bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak, baik
dalam cara berpikir, bersikap, maupun berprilaku. Sekolah berperaan sebagai
substitusi keluarga, dan guru sebagai substitusi orang tua.
Sekolah yang efektif yaitu
mengembangkan prestasi akademik, keterampilan sosial, sopan santun, sikap
positif terhadap belajar, melatih keterampilan sebagai bekal bagi siswa untuk
dapat bekerja. Faktor lingkungan sekolah yang berkontribusi positif terhadap
perkembangan anak, kinerja guru yang efektif yang mampu menciptakan lingkungan
belajar menyenangkan di sekolah, pengintegrasian pendidikan karakter (karakter
yang dikembangkan: agama, pancasila, budaya, tujuan pendidikan nasional),
strategi pengembangan karakter di sekolah.
c.
Teman sebaya
Kelompok teman sebaya adalah
kelompok sosial anak dalam lingkungan bermainnya. Pengaruh kelompok teman
sebaya terhadap bisa positif atau negatif.berpengaruh positif apabila para
anggota kelompok itu memiliki sikap dan perilakunya positif atau berakhlak
mulia. Orang tua patut mengontrol dengan siapa anak-anaknya bergaul, agar dapat
memantau perkembangan pergaulannya, orang tua perlu mencurahkan kasih sayang
dan perhatian kepada anak, berdiskusi dengan anak tentang cara memilih atau
bergaul dengan teman, memberikan pemahaman kepada anak dalam bergaul yang
sehat.
d.
Media massa
Media massa merupakan pengaruh yang
paling mengwatirkan terhadap perkembangan anak dalam berfikir dan bertindak,
media massa memiliki sisi positif dan negatif, namun yang dominan adalah sisi
negatif apabila kurang kontrol dari orang tua. Anak di sekolah dasar belum
layak diberi kepercayaan untuk memiliki hp secara pribadi karena dengan
mudahnya situs-situs yang kurang bertanggungjawab mempertontonkan aksi-aksi
yang kurang mendidik sehingga menimbulkan kecanduan dan rasa penasaran. Jika hal
ini terjadi maka inilah awal rusaknya moral anak. Orang tua dan guru patut
bekerja sama dalam mendisiplinkan siswanya untuk tidak kecanduan gadget. Orang tua
harus mengontrol setiap aktivitas anaknya dalam mengfunsikan hpnya, agar tidak
terpengaruh terhadap situs-situs sesat.
Komentar
Posting Komentar