FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN INDIVIDU
Proses perkembangan individu dikaitkan dengan proses biologis, proses kognitif, dan proses psikososial. Secara keseluruhan ketiga proses inilah yang mengalami perubahan-perubahan. Dalam artian individu megalaman perubahan-perubahan proses biologis, proses kognitif kognitif, dan proses psikososial.
1. Proses biologis merupakan perubahan fisik individu yang bersifat alami seperti pertumbuhan otak, sistem syaraf, keterampilan motorik, hormon dll.
2. Proses kognitif merupakan kemampuan-kemampuan berfikir, berbahasa, dan cara memperoleh pengetahuan di lingkungan.
3. Proses psikososial merupakan perubahan-perubahan pada aspek perasaan, emosi dan kepribadian individu, pola hubungan dengan anggota keluarga, teman, guru dll.
Perkemabangan pada individu juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor hereditas dan faktor lingkungan. Individu tidak akan mungkin akan berkembang dengan sendirinya tanpa bantuan dari orang-orang sekitarnya karena individu terlahir dengan berbagai potensi yang sama namun yang membuatnya beda adalah proses mengasah dan memperlakukan potensi itu. berikut penjelasan mengenai faktor hereditas dan faktor lingkungan:
A. Faktor hereditas (genetik/ keturunan/ pembawaan)
Hereditas merupakan faktor utama bawaan dari sejak dalam kandungan yang diturunkan oleh ayah dan ibunya baik secara fisik maupun psikisnya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh University Of Washington bahwa ibu menurunkan gen kecerdasan lebih banyak karena perempuan memiliki dua kromosom X, dan ayah hanya memilikin satu kromosom X. kromosom inilah yang menentukan fungsi kognitif seorang anak. Pengaruh gen terhadap kepribadian tidak dipengaruhi secara langsung melainkan melalui proses penyesuaian diri individu dan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor
lingkungan.
Dari sejak pembuahan ovum oleh sperma atau disebut masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak-pihak orang tua melauli gen-gen. Seluruh bawaan hereditas individu dibentuk dari 23 kromosom (pasangan xx) dari ibu dan 23 kromosom (xy) dari ayah. Dalam 46 kromosom tersebut terdapat beribu gen yang mengandung sifat-sifat fisik dan psikis individu, sehingga hereditas terbentuk secara alami semasa perkembangan dalam rahim, sehingga diperlukan asupan gizi dan vitamin juga menjaga psikologi ibu yang sedang mengandung demi mendukung berkembangnya sel-sel dalam tubuh janin.
Masa dalam kandungan merupakan masa-masa pembentukan awal sel jaringan dalam tubuhnya, pembentukan pola kepribadian dan persiapan masa penyesuaian tubuhnya pasca kelahiran. Faktor turunan/gen yang dibawa oleh individu diantaranya:
1. kualitas sistem saraf,
sistem ini bertugas menghantarkan pesan dari seluruh bagian tubuh ke otak dan sebaliknya melalui beribu-ribu jaringan-jaringan sel yang tersebar keseluruh tubuh manusia. Misalnya ketika bagian salah satu anggota tubuh terkena benda tajam maka saraf pada kulit yang terluka akan menghantar pesan berupa rasa sakit tersebut ke otak, setelah itu otak mengirim pesan kembali ke otot-otot untuk menarik anggota tubuh atau menghindarkan diri dari benda tajam tersebut. Sistem saraf dikelompokkan menjadi 3 bagian yakni:
a. saraf sensorik, ialah saraf yang bisa merasakan segala sensasi yang terjadi pada tubuh, misalnya perasaan sakit yang dirasa ketika anggota tubuh kita kena benturan benda lain dll. Apabila saraf sensorik mengalami gejala atau keruasakan maka tubuh manusia akan mati rasa, tubuh nyeri, sensitif kulit seperti terbakar dll.
b. Saraf motorik, ialah saraf yang mengontrol gerakan anggota tubuh, seperti kemampuan berjalan, berlari, memegang dll. Apabila saraf ini mengalami gangguan maka dapat membuat badan lemas, lumpuh, otot yang mengecil dll.
c. Saraf otonom, ialah saraf yang mengontrol aktivitas yang terjadi didalam tubuh kita tanpa disadari dan dirasakan oleh manusia, seperti pencernaan, tekanan darah, detak jantung dan suhu tubuh. Jika saraf ini mengalami gangguan bisa mengalami mata kering, kesulitan buang air besar, mulut kering, keringat berlebih, pusing dll.
2. struktur tubuh/fisik
seperti berat badan, tinggi badan, warna rambut, jenis rambut, warna mata,warna kulit dan bentuk wajah.
3. Keseimbangan Biokimia tubuh,
terpenuhinya keseimbangan protein, karbohidrat, asam nukleat, enzim yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang sedang mengandung.
Hal-hal penting yang harus diperhatikan oleh ibu yang sedang mengandung ialah menjaga kebersihan fisiknya dan kebersihan lingkungan sekitarnya, ibu hamil berpotensi melahirkan anak yang cacat dan lahir prematur meskipun bukan keturunan namun bisa karena dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya:
a. Ibu yang mengandung di usia dini, dibawah umur ideal untuk wanita 21 tahun keatas dan untuk pria 23 tahun keatas.
b. Ibu yang mengandung diusia renta yakni diatas 40 tahun, idealitas masa produksi wanita dari umur 21 sampai umur 39 tahun.
c. Mengkonsumsi obat-batan berlebih atau obat-obat terlarang
d. Merokok atau menghisap asap rokok
e. Tinggal di lingkungan yang tidak sehat seperti banyak tumpukan sampah, polusi udara, limbah, dan dekat pabrik-pabrik yang mengeluarkan bau yang menyengat.
f. Tidak mengkonsumsi makanan yang kaya kandungan gizi.
g. Anak yang terlahir hasil dari inces (perkawinan sedarah).
h. Mengkonsumsi alkohol dan minuman keras lainnya.
Bekerja terlalu berat dan berlebihan.
Stres dan tertekan dapat mengakibatkan kontraksi dini pada cabang bayi karena merasakan kegelisahan dan ketidak nyamanan sang ibu.dll.
Demikian beberapa hal yang bisa saja terjadi pada ibu yang sedang mengandung, untuk itu diharapkan untuk selalu berhati-hati dan menjadi suami yang siaga dan segala hal dan tetap menyeimbangkan kondisi psikis si ibu.
B. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan paling berperan dalam tumbuh kembang individu setelah masa kelahiran. Setelah individu baru lahir bukan berarti berhenti pula proses pertumbuhan sel pada tubuhnya, namun terus berlanjut hingga proses pematangan sel-sel pada tubuh. Lingkungan tempat anak beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kehidupan disekitarnya begitupun dengan karakternya. Joe Kathena 1992 (Yusuf Syamsu, 2015:35) mengemukakan bahwa lingkungan ini merupakan segala sesuatu yang berada diluar individu yang meliputi fisik dan sosial budaya.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan teman sebaya, dan lingkungan media massa. Berikut penjelasannya:
1. Lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga merupan kelompok sosial yang pertama kali memperkenalkan nilai-nilai kehidupan pada anak, sebagai model utama yang ditiru oleh anak dan pembentukan karakter utama dari keluarga yang kemudian dibawanya ke lingkungan sosial luas. Keluarga harus menyadari perannya masing-masing agar anak tidak terabaikan dan justru memperoleh pemahaman dasar tentang nilai kehidupan dari orang lain, yang belum tentu memberikan contoh yang baik.
Kebanyakan anak-anak yang terbengkalai adalah mereka yang berasal dari latar belakang keluarga broken home, sehingga tak ada lagi tempat anak bersandar karena kedua orang tuanya sibuk mencari kebahagiaannya masing-masing. Ketika hal ini terjadi maka pelarian anak adalah mencari hiburan dan yang peduli terhadapnya, saat itulah pengaruh-pengaruh negatif mudah merasuki jiwa anak ketika sedang dalam kekosongan.
Orang tua sebaiknya menjauhkan egonya untuk menjalankan perannya dengan sempurna. Menurut Hamner dan Turner (Adiasri T.A.,2008:8) peranan orang tua yang sesuai dengan fase perkembangan anak adalah: (1) pada masa bayi berperan sebagai perawat (caregiver); (2) pada masa kanak-kanak sebagai pelindung (protector); (3) pada usia prasekolah sebagai pengasuh (nurturer); (4) pada masa sekolah dasar sebagai pendorong (encourager); dan (5) pada masa pra remaja dan remaja berperan sebagai konselor (counselor).
Maksud dari masa bayi orang tua sebagai perawat ialah mempunyai peran untuk memperhatikan secara keseluruhan pada bayi dan lingkungannya, seperti ibu wajib memberika asi eksklusif selama kurang lebih dua tahun, memberikan asupan gizi seimbang, memandikan, memakaikan pakaian dll.
Maksud dari orang tua sebagai pelindung ketika masa kanak-kanak, ialah melindungi anak dari benturan atau hal-hal yang mencelakai anak ketika sudah memulai merangkak dan berjalan. Anak belum memahami betul setiap tindakan yang dilakukannya melainkan berupa tindakan refleks. Anak sudah mulai berpindah tempat, mencoba terus merangkak tanpa mempertimbangkan apa yang ada dihadapannya, sehingga seorang ibu perlu waspada dan siaga melihat gerak gerik sang anak. Selain dari itu diusia ini, anak mulai memasukkan benda-benda asing kedalam mulutnya sehingga orang tua wajib menyingkirkan benda yang berpotensi mencelakai sang anak.
Maksud dari orang tua sebagai pengasuh di usia pra sekolah karena diusia ini anak mulai belajar mengancing sendiir bajunya sehingga membutuhkan bimbingan orang tua, membimbing anak cara bersosialisasi dengan temannya dll.
Maksud dari orang tua sebagai pendorong ketika anak di usia sekolah dasar ialah orang tua berperan memberikan motivasi dan semangat kepada anak untuk terus melakukan hal-hal yang membuatnya mandiri, dan memfasilitasi anak dalam mengembangkan minat dan bakatnya di sekolah.
Maksud dari orang tua sebagai konselor ketika anak diusia remaja ialah mendampingi anaknya dalam mencari jati dirinya dengan menyampaikan hal-hal yang baik berdasarkan pengetahuan dan pengalaman orang tua, orang tua selalu menjadi penengah dan tempat curhat sang anak disetiap anak mengalami masalah dengan membantu mencari jalan keluarnya. Misalnya saja ketika anak mulai mengenal lawan jenisnya, orang tua patut memberikan pemahaman dan pengetahuan dasar tentang batasan-batasannya, begitupun ketika sang anak ingin memilih jurusan sebagiknya orang tua ikut berperan menemukan bakat anak yang kecenderungannya mengarah pada jurusan apa, sehingga anak mampu memahami kemampuannya.
Keluarga mengalami perubahan yang beragam, ada keluarga yang harmonis, ada juga keluarga yang broken home, dan ada juga keluarga yang lengkap namun mempertontonkan perseteruan oleh kedua orang tuanya yang berkepanjangn. Idealnya suatu keluarga ialah ketika saling melengkapi dan identik dengan rumahku surgaku. Keharmonisan suatu keluarga tidak diukur dari seberapa suksesnya atau sebera banyak kekayaan suatu keluarga, namun keluarga broken home dan keluarga yang mengandung unsur kekerasan biasanya slaah satu nya dipicu oleh melemahnya perekonomian sementara banyaknya tuntutan hidup. Namun banyak tidaknya suatu pendapatan tergantung seberapa sbesarnya rasa bersyukur kita atas pemberian rezki-Nya. Berikut dipaparkan oleh Alexander A. Schneiders (1990:405) karakteristik keluarga yang ideal:
a. Minimnya perselisihan antara orang tua dan antara anak dan orang tua
b. Ada kesempatan untuk menyatakan keinginan
Penuh kasih sayang
c. Menerapkan disiplin yang tidak keras
Memberikan peluang untuk bersikap mandiri dalam berpikir, merasa dan berperilaku
Saling menghargai atau menghormati antar anggota keluarga
d. Menyelenggarakan musyawarah keluarga dalam memecahkan masalah
e. Menjalin kebersamaan antar anggota keluarga
Orang tua memiliki emosi yang stabil
f. Berkecukupan dalam ekonomi
g. Mengamalkan nilai-nilai moral agama
h. Orang tua baiknya ketika memiliki masalah dengan pasangannya untuk tidak memperdengarkan atau mempertontonkan perdebatan apalagi sampai dengan kekerasan fisik didepan anak-anak. Bijaklah dalam mengolah masalah anda, dan selesaikan masalah tersebut dengan mencari solusinya satu sama lain agar tidak memendam sendiri bagaikan bom waktu ketika sudah mencapai puncak kekecewaan dan masalah-masalah yang selama ini hanya dipendam saja akan meledak dan menimbulkan masalah baru yang lebih runyam.
Pola hubungan orang tua dengan anak diadopsi dari buku Yusuf Syamsu dan Sugandhi (2015:29).
Tabel 1. Dampak Parenting Style terhadap Perilaku anak
Parenting Style :
-Authoritarian, ialah orang tua yang terlalu memaksa kehendak kepada anak.
Sikap atau Perlakuan Orang Tua:
-Sikap “acceptance”
rendah namun kontrolnya tinggi
-Suka menghukum secara fisik
-Suka mengomando dan mengharuskan tanpa kompromi
-Bersikap kaku (keras)
-Cenderung emosional dan bersikap menolah
Profil Perilaku Anak:
-Mudah tersinggung
-Penakut
-Pemurung
-Mudah terpengaruh
-Mudah stres
-Tidak mempunyai arah masa depan yang jelas
-Tidak bersahabat
Parenting Style:
Permissive,
Ialah orang tua yang memberikan kebebasan dan kepercayaan penuh pada anak dalam melakukan sesuatu tanpa adanya pengawasan dari orang tua Sikap
Sikap atau perlakuan orang tua:
-“acceptance”nya tinggi, namun kontrolnya rendah
-Memberi kebebasan kepada anak untuk menyatakan keinginannya Bersifat implusif dan agresif
Profil perilaku anak:
-Suka memberontak
-Tidak percaya diri dan tidak bisa mngendalikan diri
-Suka mendominasi
-Tidak jelas arah hidupnya
-Prestasinya rendah
Parenting style:
Authoritativ,
Ialah orang tua yang memberikan pengertian dan penjelasan kepada anak mengenai konsekuensi dari suatu perilaku yang baik dan kurang baik
Sikap atau perlakuan orang tua:
-Sikap “acceptance” dan kontrolnya tinggi
-Bersikap responsiv terhadap kebutuhan anak
-Mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan
-Memberikan penjelasan tentang perbuatan yang baik dan yang buruk Bersikap bersahabat
Profil perilaku anak:
-Percaya diri
-Mampu mengendalikan diri
-Bersikap sopan
-Mau bekerja sama
-Memiliki rasa ingin tahunya tinggi
-Mempunyai arah hidup yang jelas
-Berorientasi terhadapprestasi
2. Lingkungan sekolah
Sekolah merupakan tempat berinteraksi anak dari usia PAUD, SD,SMP, hingga SMA/SMK. Sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak baik dari cara berfikir, bertutur sapa, berperilaku, maupun bersosialisasi dengan gurunya dan dengan teman-temannya. Di sekolah siswa tidak hanya menuntut ilmu pengetahuan namun juga dididik dalam pendidikan karakter. Guru tidak hanya bertugas menuntaskan siswanya dalam segi pengetahuannya tetapi juga mendidik anak dalam menanamkan nilai-nilai moral dalam berbuat dan bertutur sapa, karena usia sekolah dasar merupakan usia emas dimana sebagai permulaan membiasakan hal-hal yang baik. Selanjutnya mengenai pendidikan karakter akan dibahas di BAB 2 secara terperinci mengenai penguatan pendidikan karakter di Sekolah yang telah disuarakan oleh pemerintah.
Beberapa faktor lingkungan sekolah yang berkontribusi positif terhadap perkembangan siswa diantaranya:
a. Keterlaksanaan visi dan misi sekolah, bukan hanya sekedar pajangan namun diaplikasikan dalam kemajuan sekolah.
b. Sistem manajemen yang baik dari kepala sekolah sebagai pemimpin yang memiliki integritas yang tinggi
c. Manajerial guru dalam mengelola lingkungan fisik kelas maupun kegiatan proses belajar mengajar
d. Keterlaksanaan 4 kompetensi guru diantaranya kompetensi sosial, pedagogik, profesional dan kompetensi kepribadian.
e. Guru berperan sebagai orang tua kedua siswa ketika berada di lingkungan sekolah
f. Guru mampu mengenali dan memahami karakteristik siswanya
g. Guru yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap permasalahan pembelajaran yang dihadapi siswa
h. Tersedianya sarana dan prasana penunjang kegiatan belajar siswa
i. Terjalinnya keharmonisan dan kekeluargaan anatar aparat sekolah dan orang tua siswa.
Guru mencintai profesinya dan senang dengan dunia anak-anak.
3. Teman sebaya
Teman sebaya atau teman sejawat merupakan lingkungan sosial siswa sebagai tempat berbagi, bermain, dan bercerita yang membuat anak merasa nyaman karena sejalan dengan jalan pikirannya. Wajar saja karena teman sebaya biasanya adalah teman seumuran mereka yang paling sering ditemuinya karena mungkin satu sekolah atau satu lingkungan masyarakat. Tentu teman sebaya memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting pula. Ada pepatah mengatakan jika ingin harum maka berteman dengan penjual parfum, artinya jika teman kita memiliki karakter yang baik otomatis akan kecipratan kepada diri sendiri hal-hal yang baik pula. Begitupun sebaliknya.
Tak ada salahnya anak dibimbing dalam selektif memilih teman, dengan siapa mereka bergaul dan di lingkungan dimana mereka sering berada. Orang tua patut mengajak anaknya berbica dan terbuka dengan pengalaman yang dihadapi anaknya di lingkungan bermainnya. Berikan wejangan dan arahan dengan siapa mereka berteman, dan orang tua patutlah memberikan contoh yang baik, dengan memperlakukan teman sebaya anaknya layaknya seperti anak sendiri, dan hindari kekerasa fisik maupun perdebatan sengit dihadapan anak.
4. Media massa
Media massa merupakan wadah yang paling banyak memberikan dampak terhadap perkembangan anak. Media massa yang paling digemari anak-anak adalah televisi dan gadget. Kedua media ini memiliki eksistensi yang cukup dikagumi di tengah masyarakat. Kehadirannya bak pahlawan yang menyajikan hiburan-hiburan yang membuat penonton terbawa suasana dan digiring untuk terus menontonnya. Menghadirkan konflik-konflik sehingga masyarakat rela menongkrongi televisi demi menunggu siaran favoritnya tayang.
Namun cukup disayangkan, kehadiran media massa ini tidak hanya memberikan hiburan namun juga memberikan dampak negatif kepada anak-anak sebagai penikmat yang menganggap tayangan yang ditontonnya benar adanya dan anak tertarik untuk menirunya. Sepertinya tayangan-tayangan di TV tidak lagi begitu ketat izin tayangnya sehingga banyak film-film remaja yang jelas-jelas mempertontonkan kekerasan, contohnya seperti tawuran, geng motor, pelecehan seksual dan kekerasan fisik. Meskipun kemasan film tersebut dikemas sebagai bentuk hiburan, tapi dibumbui dengan adu jotos dan juga pembagian kelompok pemuda yang disiapkan untuk saling menyerang. Mirisnya lagi film-film ini laris dikalangan masyarakat, nyatanya sampai beribu-ribu episode, itu karena rating yang terus melonjak sehingga permintaan jam tayangnya semakin ditingkatkan.
Tayangan film kanak-kanak hanya dikuasai oleh sumbangsih dari negeri tetangga, yang cukup membanggakan karena banyak petua dan pesan-pesan moral didalamnya. Penanyangan media massa semakin kesini semakin tidak mendidik, ada beberapa tayangan roadsow yang tidak asing lagi, dikenal bahkan sudah menyebar bahwa tayangan tersebut hanya disetting untuk memunculkan konflik sehingga mencuri perhatian pemirsa. Lagi dan lagi orang tua andil dalam mendisiplinkan tayangan-tayangan yang tidak pantas ditonton. Banyak cara yang bisa dilakukan orang tua dengan membatasi jam nonton, hindari pemasangan tv di kamar anak, nonton bersama dan mendampingi anak-anaknya agar ketika ada tayangan yang tak senonoh, orang tua bisa menjelaskan dan memberikan pemahaman, sediakan kaset vcd film kanak-kanak yang ada pesan moralnya, dan alihkan atau pindahkan segera tayangan yang mengandung unsur kekerasan.
Selain media TV, media yang paling banyak digandrungi anak adalah Gadget, karena praktisnya yang bisa dibawa kemana-mana dan pilihan berbagai menu aplikasi yang menggiurkan terutama game online dan media sosial. Anak usia PAUD bahkan sudah memiliki gadget sendiri dan dibiarkan untuk menguasai gadgetnya, sehingga anak mengalami ketergantungan. Ketika gadgetnya tak nampak dipelupuk mata, metonta-rontalah mereka seakan tak bisa diam tanpa ada gadget di tangannya.
Fenomena di masyarakat banyak pasien penderita kerusakan kornea pada mata dan penderitanya adalah anak-anak usia 2 tahun keatas, karena ketidak matangan saraf mata pada anak melihat atau berpapasan dengan cahaya gadget yang terang dan menyilaukan mata sehingga anak memaksakan penglihatannya dengan melawan cahaya itu. apalagi menatap layarnya dalam durasi yang lama dan berkepanjangan. Setelah melukai fisiknya, selanjutnya melukai pula psikisnya, meracuni otak anak-anak melalui game-game online yang saling serang, menyakiti, mengambil hak orang lain, berburu point dan lain sebagainya. Diam-diam anak telah merekam itu kedalam alam bawa sadarnya, dan merusak nilai karakternya.
Di usia remaja, media sosial juga berdampak negatif. Banyak kejadian yang diberitakan beberapa siswa menggunakan media sosial sebagai ajang pamer kemesraan, ajang caci maki, mengeluarkan kata-kata kasar, bullying hingga ajang kekerasan seksual. Bidikannya adalah anak-anak remaja yang baru pucuk, alih-alih meminta pertemanan melalui facebook dengan memajang foto bak artis korea, memikat hati lawan jenisnya, sehingga baru kenalan 2 hari sudah minta ketemuan, lanjut menjalankan modusnya dengan melakukan tindakan tak senonoh.
Berikut beberapa tips bagi orang tua dan guru untuk dalam menghindari pengaruh-pengaruh penggunaan media massa terutama gadget:
Berikan edukasi pada anak tentang penggunaan gadget beserta dampak penggunaannya
Batasi penggunaan gadget kecuali hal-hal penting berkaitan dengan tugas sekolah
Dampingi anak ketika menggunakan gadget dan sesekali mengontrol hal-hal yang diaksesnya
Disiplin dan tegas untuk tidak memberikan gadget pada anak usia sekolah dasar
Orang tua dan guru memberikan contoh untuk tidak terlalu sering memegang gadget didepan anak-anak
Gunakan gadget seperlunya saja, jangan kehadirannya justru membuat rumah kita sunyi karena hanya fokus pada hp masing-masing
Guru harus tegas agar tidak membawa gadget kedalam ruang kelas, untuk itu sekolah harus menyediakan laboratorium komputer yang memadai untuk digunakan siswa apabila ada tugas di sekolah yang membutuhkan referensi dari internet
Batasi pengaksesan pada gadget anak, agar tidak dapat mengakses gambar atau video yang hanya boleh diakses oleh orang dewasa
Buat pantauan pada media-media sosial anak dengan menggandakannya agar tetap dapat dipantau dari jarak jauh.
Jangan sekali-kali memperkenalkan atau memperlihatkan ke anak permainan-permainan online karena hanya akan menumbuhkan rasa penasarannya.
Komentar
Posting Komentar