KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN FISIK, MOTORIK, PERCEPTUAL, DAN KOGNITIF ANAKNUSIA SEKOLAH DASAR

      Karakteristik perkembangan apeserta didik begitu penting dipelajari oleh seorang guru atau calon guru karena dengan mempelajari dan memahami aspek perkembangan peserta didik adalah salah satu kompetensi yang harus harus dimiliki oleh seorang guru dalam menunjang profesi keguruannya. 
   Melalui pemahaman tentang aspek perkembangan pada peserta didik, faktor yang mempengaruhi, dan upaya menfasilitasi perkembangannya sesuai dengan  kebutuhan peserta didik dan upaya-upaya dalam menangani masalah perkembangan yang terjadi pada anak. setiap individu memiliki keberagaman kemampuan perkembangan, tentu masing-maisng memiliki kelebihan dan kekurangan.  Ada siswa yang unggul dalam hal akademik tetapi rendah dalam hal non akademik bgitupun sebaliknya. Karena perkembangan pada anak dipengaruhi oleh faktor gen atau hereditas dan faktor lingkungan.

A. Perkembangan fisik

  Wahab 1998 (Tri Murti, 2018:21) “perkembangan fisik merupakan perkembangan yang berkaitan dengan tinggi dan berat badan, serta bentuk tubuh,juga perkembangan otak”. Pada usia sekolah dasar. Perkembangan fisik relatif lebih lambat dan lebih konsisten ketimbang usia-usia sebelumnya. 
    Perkembangan fisik anak SD adalah perubahan fisik atau pertumbuhan yang meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh seperti petumbuhan otak, system syaraf, organ-organ iderawi, pertambahan tinggi dan berat,hormon dan lain-lain. Dan perubahan-perubahan cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya, serta perubahan dalam kemampuan fisik.
     Perkembangan fisik dan motorik anak adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Fisik seseorang akan mempengaruhi gerak motoriknya. Perkembangan  fisik merupakan suatu proses tumbuh kembang serta pematangan seluruh organ tubuh kesehatan fisik atau fungsi organ tubuh (Mulyani & Gracinia, 2007; dalam Trianingsih, 2015:202). Orang yang sehat secara fisik akan dapat melakukan aktivitas dengan baik sehingga perkembangan motoriknya berjalan dengan baik. 
      Fase usia sekolah dasar (7-12 tahun) atau biasa disebut fase operasional kongkrit merupakan proses pemikiran anak mengarah pada kejadian nyata yang dapat diamati, mengalami perubahan pada perkembangan fisik yang signifikan, adapun perkembangan fisiknya meliputi:


  1. Tinggi dan berat badan, masih mengalami belum seimbangnya proporsi dan bentuk tubuh. Perkembangan  akan mulai nampak di kelas 5/6 begitupun pada jaringan ototnya.

        Perkembangan fisik anak usia SD dapat dilihat dari gambaran umum menyangkut pertambahan proporsi tinggi dan berat badan serta ciri-ciri fisik lain yang tampak. Anak SD umumnya berada pada fase tenang, di mana perkembangan fisik pada masa ini terbilang lambat namun konsisten (Budiyartati, 2014 dalam Trianingsih,2015). Ciri-ciri perkembangan fisik yang mendasar pada anak SD usia 7 hingga usia 9 tahun, anak perempuan lazimnya lebih pendek dan ringan daripada anak laki-laki. Pada usia 9 sampai 10 tahun, anak perempuan lazimnya memiliki tinggi dan berat badan yang sama dengan anak laki-laki. Pada usia sekitar 11 tahun anak perempuan lebih tinggi dan berat dibandingkan anak laki-laki. Di Indonesia tinggi dan berat badan diperkirakan penambahanya berkisar 2,5 – 3,5 kg dan 5-7Cm pertahun (F.A Hodis dalam Wahab 1998/1999:43) . Demikian juga pendapat (Desmita 2009 dalam Murti 2018) mengemukakan bahwa selama masa akhir anak-anak, tinggi bertambah sekitar 5 hingga 6% dan berat bertambah sekitar 10% pertahun. Pada usia-usia 6 tahun tinggi rata-rata anak adalah 46 Inci dengan berat 22,5 kg, sedangkan usia 12 tahun tinggi anak mencapai 60 inci, berat badan mencapai 40kg hingga 42,5kg  (Mussen,Conger dan Kagan, 1969; dalam Murti, 2018) .
       Berdasarkan uraian di atas peningkatan berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badanya. Kaki dan tangan menjadi lebih panjang, dada dan panggul lebih besar. Peningkatan berat badan anak selama ini terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka dan otot serta ukuran beberapa organ tubuh. Pada saat yang sama  secara berangsur-angsur terus bertambah.  Pertambahan ini disebabkan karena faktor keturunan dan latihan. 
     Pertumbuhan fisik pada masa ini, disamping memberikan kemampuan bagi anak-anak untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas baru tetapi juga dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan dan kesulitan-kesulitan secara fisik dan psikologis mereka (Scifert & Hoffnung, 1994). Kesulitan-kesulitan fisik maksudnya, anak tidak dapat bertindak atau berperilaku secara berani, hal ini disebabkan karena proporsi tubuhnya yang tidak serasi. Akhirnya orang dewasa ataupun guru mengatakan bahwa mereka tidak sopan. Hal tersebut jelas akan berpengaruh pada psikis anak . 
    Proporsi/bentuk tubuh anak sekolah  dasar, ada yang yang gemuk atau terlihat berbadan besar, ada yang kelihatan kokoh dan kuat, ada juga yang lemah dan tak berotot. Ketiga bentuk tubuh tersebut akan berpengaruh pada Perilaku mereka sehari-hari dan juga berpengaruh pada sikap dan psikologis mereka. Anak-anak yang berbadan gemuk biasanya sulit untuk bergerak dan sering diejek oleh teman-temannya sehingga mereka sering merasa rendah diri. Anak-anak yang kokoh dan kuat, mereka cenderung memiliki percaya diri yang tinggi, karena dapat melakukan aktivitas sehari-hari  dengan baik. Anak-anak terlihat lemah dan tidak berotot biasanya menjadi ejekan teman-temanya, karena kurang mampu beraktivitas seperti yang lain, sehingga mereka juga cenderung kurang percaya diri dan minder.

2. Perubahan pada struktur dan fungsi otak

      Pertumbuhan otak dan kepala jauh lebih cepat dibandingkan bagian-bagian tubuh lainnya. Pada usia tiga tahun saja, Pertumbuhan otak anak sudah mencapai  dua pertiga dari ukuran otak orang  dewasa, dan menjelang umur lima tahun, ukuran otak anak sudah mencapai kurang lebih 90% dari ukuran otak orang dewasa. pertumbuhan otak anak usia sekolah dasar, dapat dikatakan ukuran menyamai dengan orang dewasa. Artinya bahwa pertumbuhan otak anak mendekati sempurna. 
   Penambahan ukuran otak terjadi karena adanya penambahan jumlah dan ukuran dari ujung- ujung syaraf yang terdapat dalam dan diantara wilayah otak. Disamping itu karena adanya peningkatan melinasi (suatu proses tersekatnya sel-sel syaraf oleh lapisan lemak sehingga meningkatkan kecepatan jalur informasi melalui sistem syaraf). Ujung-ujung syaraf ini terus tumbuh hingga remaja. 
     Terkait dengan pernyataan tersebut, untuk  mencapai kesempurnaan pertumbuhan otak, anak-anak perlu terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Tetapi untuk perkembangan otaknya tidak hanya nutrisi saja, melainkan interaksi dengan lingkungan yang berkualitas sangat diperlukan. Seperti dikatakan dalam hasil penelitian Sperry (dalam Wahab, 1998/1999:48) mengemukakan bahwa konstruksi jaringan otak itu hanya akan hidup bila diprogram melalui rangsangan. Tanpa dirangsang atau digunakan, otak manusia itu tidak akan berkembang. Karena pertumbuhan otak itu memiliki  keterbatasan waktu, maka rangsangan otak di usia dini sangat penting. Penundaan yang terjadi membuat otak itu tetap tertutup sehingga tidak dapat menerima program-program yang baru.

 3. Penambahan jumlah dan ukuran ujung-ujung syaraf yang ada didalam atau sekitar otot. 

     Diusia 5 tahun perkembangan otot sudah  mencapai 90% otot orang dewasa. Selaras dengan pertumbuhan otak pada diri anak, maka pertumbuhan syaraf otak juga semakin berkembang dengan sempurna sehingga mempengaruhi terhadap kematangan kognisi/berfikir anak. namun kematangan otak ini tidak dapat berkembang tanpa adanya ransangan-ransangan dari luar sehingga aktivitas motorik anak diperlukan untuk mengoptimalkan perkembangan kognnitif.

B. Motorik

     Seiring dengan pertumbuhan fisiknya yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkordinasi dengan baik. Motorik merupakan perkembangan kemampuan melakukan atau merespon sesuatu. Semakin dewasa seorang anak maka akan semakin banyak kemampuan motoriknya. Seiring dengan pertumbuhan fisiknya yang matang , maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkordinasi dengan baik. Setiap geraknya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Menggerakan anggota geraknya sesuai dengan tujuan yang jelas seperti menggerakkan tangan untuk menulis, menggambar, mengambil makanan dll, menggerakkan kaki untuk menendang, berlari, mengejar dll. 
    Perkembangan motorik, sering juga disebut dengan keterampilan motorik. Keterampilan motorik adalah gerakan-gerakan tubuh atau bagian-bagian tubuh yang disengaja, otomatis, cepat dan akurat (Desmita: 2007; 97). Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh anakanak,  termasuk anak sekolah dasar merupakan koordinasi dari beratus-ratus otot yang rumit. Keterampilan motorik dapat dikelompokan menurut ukuran otot-otot dan bagian-bagian badan yang terkait, yaitu keterampilan motorik kasar dan motorik halus.
  1.  Motorik kasar meliputi keterampilan otot-otot besar lengan, kaki dan batang tubuh, seperti berjalan, melompat, berlari. Sedangkan 
  2. keterampilan motorik halus meliputi otot-otot kecil yang ada diseluruh tubuh, seperti menyentuh dan memegang. 

      Keterampilan motorik untuk anak sekolah dasar, seiring dengan pertumbuhan fisiknya mereka sudah mampu mengendalikan dirinya untuk melakukan keterampilan-keterampilan motorik yang lebih terkoordinir. Mereka sudah mampu melakukan keterampilan motorik kasar seperti melempar bola, menagkap bola, berlari,  berdiri di atas satu kaki, melompat, Mengen  darai sepeda dan berenang. Mereka  juga sudah mampu melakukan motorik halus, seperti menulis, menggambar dan menyulam  atau menjahit. 
     Keterampilan motorik bagi anak sekolah dasar merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan. Hal ini disebabkan otot-otot mereka itu mulai menemukan fungsinya atau berkembang, sehingga mereka tidak dapat duduk diam dalam waktu yang lama. Namun perlu diingat bahwa mereka masih jauh dari memiliki kematangan fisik dan mereka masih perlu aktif. Anak-anak SD akan lebih tersiksa kalau harus duduk dan memperhatikan guru dengan waktu yang lama. Mereka lebih senang berlari, berlompat atau bermain sepeda. Artinya anak-anak usia SD masih lebih senang melakukan berbagai aktivitas fisik dari pada berdiam diri. 
      Anak diusia 7 tahun, mulai ada peningkatan minat pada bidang spiritual, mulai dapat melakukan gerakan dengan lancar. Usia 8-9 tahun, mereka mulai mampu menggunakan alat rumah tanggga, ingin terlibat sesuatu, menyukai kelompok/model. Usia 10-12 tahun, perubahan kemampuan motorik diikuti berubahnya postur tubuh yang berhubungan dengan pubertas yang mulai tampak, anak mulai dapat melakukan aktivitas rumah tangga seperti mencuci, menjemur pakaian sendiri, adanya keinginan untuk membantu dan menyenangkan orang lain, dan tertarik dengan lawan jenis. 
        Fase usia sekolah dasar (7-12 Tahun) ditandai denagn gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu usia ini merupakan masa yang idel untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik baik halus maupun kasar. Adapun perkembangan motorik anak sebagai berikut:
a. Motorik kasar : Baris berbaris, seni bela diri (pencak silat, karate), senam, berenang, atletik, menari, permainan olahraga dan lain-lain.

b. Motorik halus : Menulis, menggambar/melukis, mrngrtik, merupa (membuat kerajinan tangan), membuat kerajinan dari kertas, menjahit,dll.

      Di usia SD ini, anak banyak mengembangkan kemampuan motorik dasar yang digunakan untuk menyeimbangkan badan, berlari, melompat, dan melempar (Slavin, 2011 dalam Trianti:2015). Perkembangan motorik penting untuk dikembangkan melalui proses pembelajaran. Guru perlu mengajak anak untuk belajar dengan melibatkan aktivitas fisik, semisal olahraga, menulis, menggambar dan sebagainya sebagai latihan anak untuk mengembangkan keterampilan motoriknya. Orang tua di rumah juga penting untuk memberikan asupan gizi yang sehat dan seimbang agar pertumbuhan fisik anak sehat dan dapat beraktivitas dengan penuh semangat.  

C. Perceptual 

     Merupakan kemampuan memahami atau mencari makna dari data yang diterima oleh berbagai indera. Ada tiga proses aktivitas perceptual yaitu:

  1. Sensasi : peristiwa menerima informasi oleh indera penerima
  2. Persepsi : pengolahan informasi lebih lanjut dari aktivitas sensasi
  3. Atensi : seleksi dari persepsi, dari persepsi dipilih dari salah satu yang dianggap paling benar menurutnya.

     Aktivitas perseptual pada dasarnya merupakan proses pengenalan anak terhadap lingkungannya. Semua informasi tentang lingkungan sampai kepada individu melalui alat-alat indra yang kemudian diteruskan melalui syaraf sensoris ke bagian otak. Informasi tentang obyek penglihatan diterima oleh indra mata, informasi tentang obyek pendengaran diperoleh melalui indra telinga, obyak sentuhan melalui kulit, obyek penciuman melalui hidung. Tanpa penglihatan, pendengaran, penciuman dan indra-indra lainnya, oleh manusia akan terasing dari dunia yang ada disekitarnya. Aktifitas perseptual merupakan suatu proses psikis, yang antara satu aspek dengan aspek yang lain saling berhubungan. Apabila aspek yang satu dengan yang lain memiliki hubungan yang baik, maka membantu siswa dalam pengolahan informasi, begitu pula  sebaliknya. Wahab (1999 :51) mengemukakan  tiga aktivitas perseptual, yaitu sensasi, persepsi, dan atensi. 
     Sensasi adalah peristiwa penerimaan informasi oleh indra penerima. Sensasi berlangsung disaat terjadi kontak antara informasi dengan indra penerima. Dengan demikian, dalam sensasi terjadi proses deteksi informasi secara indrawi. Misalnya sensasi pendengaran terjadi disaat ada gelombang-gelombang udara yang bergetar diterima oleh telinga sebelah luar dan diteruskan kebagian syaraf pendengaran. 
    Persepsi adalah interprestasi terhadap informasi yang ditangkap oleh indra penerima. Persepsi merupakan proses pengolahan informasi lebih lanjut dari aktivitas sensasi. Misalnya siswa mengetahui kalau yang didengarnya itu suara gurunya menjelaskan, suara musik,suara mobil dan sejenisnya. Dalam prosesnya, sensasi dan persepsi itu mungkin sulit untuk dipisahkan. Artinya kedua proses itu merupakan sesuatu yang berlangsung secara bersamaan.
    Atensi merupakan selektivitas terhadap persepsi. Dengan kesadaran siswa /seseorang bisa hanya tertuju kepada suatu objek atau informasi, dengan mengabaikan objek-objek yang lain. Aktivitas atensi ini diharapkan seseorang fokus terhadap informasi yang masuk pada dirinya, sehingga memperoleh pemahaman tentang informasi tersebut.Dilihat dari keragaman indra penerima informasi, persepsi dapat diklasifikasi kedalam tiga kelompok, yakni persepsi visual atau penglihatan, persepsi pendengaran, dan persepsi-perspsi minor lainnya. 
  1. Persepsi visual ini di dasarkan pada indra penglihatan mengutamakan peran mata dalam proses perseptual. Anak-anak mengalami ketajaman penlihatan usia 1 sampai 10 tahun. Pada usia 10 tahun inilah puncak dari ketajaman penglihatan pada anak. Persepsi visual dapat dibedakan menjadi; 


  • persepsi konstanitas ukuran artinya kemampuan individu untuk mengenal bahwa setiap objek itu memiliki ukuran yang konstan;
  • persepsi tentang objek atau gambar pokok  dan latar, persepsi ini memungkinkan individu menempatkan suatu objek atau gambar yang berada atau tersimpan pada suatu latar yang membingungkan; 
  • persepsi keseluruhan dan bagian, persepsi ini merupakan kemampuan untuk membedakan bagian-bagian suatu objek, atau gambar dari keseluruhan; 
  • persepsi kedalam, merupakan kemampuan individu untuk mengukur jarak dari posisi tubuh ke suatu objek; 
  • orientasi tilikan ruang, kemampuan penglihatan untuk mengidentifi- kasi, mengenal dan mengukur dimensi ruang; 
  • persepsi gerakan, kemampuan memperkirakan dan mengikuti gerakan atau perpindahan suatu objek oleh mata. 


2. Persepsi pendengaran merupakan pengamatan dan penilaian terhadap suara yang diterima oleh indra telinga. Persepsi ini dibagi menjadi; 

  • persepsi lokasi pendengaran, yaitu kemampuan individu mendeteksi tempat munculnya sumber suara; 
  • persepsi perbedaan yaitu kemampuan individu mendeteksi perbedaan suara-suara yang mirip;
  • persepsi pendengaran utama dan latarnya. 


3. Persepsi minor yang lain, misalnya sentuhan, penciuman, rasa.

  • persepsi sentuhan pada diri anak terus menerus mengalami perkembangan, demikian juga persepsi minor yang lainnya. 
  • Persepsi sentuhan ternyata juga membantu individu dalam memahami informasi yang masuk pada dirinya. Demikian juga penciuman dan rasa. Penciuman dan rasa yang sensitif atau tajam juga akan membatu individu untuk memahami informasi yang masuk pada dirinya.


D. Intelektual Atau Kemapuan Kognitif

     Kemampuan dalam membaca, menulis dan menghitung. Dalam mengembangkan kreativitas anak menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti lomba mengarang, baca puisi, drama dll. Ditahap ini intelektual anak sudah mencapai tahap kematangan namun memerlukan obyek kongkrit yang dapat dilihat atau diamati secara langsung.
     Tahap operasional konkret merupakan tahap ketiga dari tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget. Pada tahap ini, anak sudah dapat melakukan penalaran secara logis untuk hal-hal yang bersifat konkret, sedangkan untuk hal-hal yang bersifat abstrak masih belum mampu. Anak sudah mampu mengklasifikasikan objek konkret ke dalam kelompok yang berbeda (Santrock, 2003;dalam Trianingsih:2016). 
      Selama masa SD terjadi perkembangan kognitif yang pesat pada anak. Anak mulai belajar membentuk sebuah konsep, melihat hubungan, dan memecahkan masalah pada situasi yang melibatkan objek konkret dan situasi yang tidak asing lagi bagi dirinya. Anak juga sudah mulai bergeser dari pemikiran egosentris ke pemikiran yang objektif (Slavin, 2011: 50-51). Anak mampu mengerti adanya perpindahan pada hal yang konkret serta sudah memahami persoalan sebab akibat. Anak mampu memaknai suatu tindakan dianggap baik atau buruk dari akibat yang ditimbulkan (Suparno, et. al., 2002: 56). 
   Beberapa penjelasan tersebut dapat menggambarkan bahwa anak usia SD membutuhkan objek konkret dan situasi yang nyata/kebiasaan pada pelaksanaan pembelajaran di SD. Guru penting untuk menghadirkan objek nyata dengan situasi pembelajaran yang nyata bagi anak sebagai metode atau media untuk memudahkan anak dalam berpikir logis, membuat klasifikasi objek, membentuk konsep, melihat hubungan dan memecahkan masalah.
      Slavin (2011: 56) menyatakan bahwa terdapat empat implikasi teori kognitif Piaget terhadap pendidikan. Pertama, guru harus peduli terhadap metode atau proses pemikiran anak hingga diperolehnya suatu hasil pemikiran dalam dirinya. Kedua, guru harus menyediakan berbagai kegiatan yang memungkinkan adanya keterlibatan aktif siswa dengan inisiatif dalam dirinya sendiri. Ketiga, guru tidak boleh menekankan kegiatan belajar yang menuntut anak untuk berpikir layaknya orang dewasa. Keempat, guru harus peduli terhadap kecepatan dan  tingkat perkembangan kognitif masing-masing siswa dalam melaksanakan suatu  pembelajaran sehingga masing-masing siswa dapat belajar secara optimal.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FASE PERKEMBANGAN ANAK USIA 0 SAMPAI 7 TAHUN

Contoh sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari

CARA AGAR PROKER KKA SUKSES DAN DISUKAI MASYARAKAT DESA